Mali Siparappe, Rebba Sipatokkong, Malilu Sipakainge menjadi falsafah hidup masyarakat Bugis yang dipedomi, tidak saja ketika masih berpijak hidup di tanah leluhur. Pepatah yang dirangkai untuk makna “Hanyut Saling Menyelamatkan, Jatuh Saling Menegakkan, dan Lupa Saling Mengingatkan” tersebut justru menjadi ilustrasi kekuatan solidaritas orang-orang Bugis perantauan saat berada di ‘tanah seberang’
Begitu lebih kurang dari makna tersirat disampaikan Ketua Harian Kerukunan Keluarga Daerah Barru (KKDB) Kabupaten Nunukan, Abiddin, S.Pd.I., M.M melalui sambutannya pada acara Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama masyarakat Bugis Barru yang ada di Nunukan, Jum’at (13/3/2026) lalu.
“Berada jauh dari kampung halaman, keluarga dan sanak famili, maka membangun solidaritas yang tinggi, rasa persaudaraan dan gotong royong di antara kita hendaknya terus terjaga dalam menghadapi tantangan hidup kita,” kata Abidin.
Ditambahkannya, falsafah dari rangkaian kata-kata itu dapat menjadi guru yang mengajarkan tentang prinsip hidup. Bahwa hidup itu bukan berarti sendirian. Hidup itu adalah makna kebersamaan dalam menghadapi berbagai hal. Tidak hanya saat suka tapi tetap bergandengan tangan dan kuat saat duka.
Sementara itu, dari rangkaian cerita singkat terkait negeri asal nun jauh disana, hingga masyarakatnya yang saat ini hidup di bumi Penekindi Debaya, melalui awak Diksipro.com yang turut hadir memenuhi undangan acara tersebut, Penasihat KKDB Kabupaten Nunukan, H. Nurdin Sade, S.Ag., M.Ag menitipkan pesan singkat namun mendalam untuk saudara-saudaranya se-Bugis Barru yang ada di Nunukan.
“Bersama kita terus memelihara falsafah hidup yang dapat berfungsi sebagai pengikat persaudaraan, menjaga kehormatan (siri’), untuk menjamin keselamatan selama berada di tanah rantau,” kata Nurdin Sade
Dihadiri lebih kurang 250 orang, silaturahmi dan keakraban yang terbangun dalam acara saat itu juga ditunjukkan oleh mereka yang sejatinya bukan warga Bugis Barru namun kemudian berada dalam lingkaran keluarga besar etnis tersebut setelah melalui ikatan pernikahan dan selnjutnya beranak pinak.
Bagi warga yang disebut-sebut sebagai komunitas orang Bugis terbesar kedua di Nunukan setelah Bugis Bone, ajang serupa silaturahmi dan buka puasa bersama seperti ini menjadi salah satu kegiatan yang selalu dinantikan. Sebagai momentum yang mempertemukan mereka dalam jumlah besar, dan terjalinnya keakraban atau mengenal lebih dekat antara satu sama lain yang sebelumnya belum sling kenal.
Pertemuan silaturahmi yang dikemas dalam sebuah kegiatan dalam bulan suci Ramadhan seperti ini juga turut memperkuat citra daerah asal mereka yang dikenal sebagai daerah santri dengan pola kehidupan masyarakat yang kental dengan nilai-nilai religius. (ADHE/DIKSIPRO)



