KaltaraNunukan

Pesona Pasar Mamolo Disaat Defisit dan Covid

Foto : Suasana Pasar Mamolo di pagi hari

NUNUKAN – Nilai belanja lebih besar dari pendapatan yang diperoleh atau dikenal dengan istilah defisit yang terjadi pada suatu daerah tentunya memberi dampak pada kondisi perekonomian ditengah masyarakat.

Menurunnya daya beli masyarakat membuat banyak pelaku usaha harus cerdas menyiasati strategi agar usahanya -minimal- dapat tetap bertahan jika tidak bisa berkembang.

Lesunya dunia usaha akibat defisit tersebut juga ditambah dengan kasus pandemi Covid 19 seperti terjadi sekarang. Mulai dari bidang usaha berskala besar hingga kecil mengalami sepi pembeli. Tidak terkecuali para pedagang kaki lima atau pedagang dipasar-pasar tradisional.

Bagaimana kabarnya dengan Pasar Mamolo di Kelurahan Tg. Harapan Kecamatan Nunukan Selatan yang disebut-sebut sebagai salah satu pasar tradisional yang masih mampu bertahan memikat kehadiran pengunjungnya dibanding pasar tradisional mingguan lainnya.

Pasar yang buka setiap hari Minggu tersebut memang masih ramai pengunjung. Berbeda dengan pasar mingguan tradisional lainnya yang nyaris sepi pembeli. Misalnya, Pasar Malam Kampung Baru, di Kelurahan Selisun. Bukan saja sepi pengunjung, pasar tradisional yang buka setiap Kamis malam itu mulai ditinggal satu demi satu pedagangnya.

“Kalau melihat jumlah pengunjung, pasar ini (Pasar Mamolo) memang masih ramai didatangi orang. Perkiraan kasarnya, paling sedikit 500 orang yang datang,” terang Kartini salah seorang pedagang kuliner. Jumlah terbesar pengunjung dipasar ini bisa mencapai dua kali lipat dari jumlah tersebut.

Namun, menurut ibu rumah tangga yang membuka lapak jualan sejak 15 tahun lalu saat pasar ini berdiri, nilai uang yang dibelanjakan pengunjung sudah tidak sebesar sebelumnya. Keluhan itu dialami hampir semua pedagang yang berjualan dipasar tersebut.

Foto : Kartini menjajakan Kuliner di Lapak jualannya di Pasar Mamolo, Kelurahan Nunukan Selatan

“Misal sebelumnya ada pengunjung yang membelanjakan uangnya dipasar ini hingga  sebesar tiga ratus ribu rupiah, sekarang mungkin hanya seratus ribu rupiah saja. Maklum saja keuangan orang kan belum stabil,” kata Kartini yang menjajakan jenis masakan Kepiting Saos, Sate Kerang, Udang Bumbu, Buras dan Gogos ini.

Adanya masakan seperti yang dijajakan Kartini ini ternyata yang menjadi daya pikat tersendiri bagi masyarakat Nunukan untuk datang berbelanja sambil berwisata kuliner di Pasar Mamolo. Sebabnya, jenis masakan tersebut memang tidak didapati dipasar-pasar tradisional lainnya.

Salah seorang pengunjung yang sempat ditemui diksipro.com, Ensri mengaku termasuk pengunjung yang kerap berbelanja di Pasar Mamolo ini. Dia membenarkan jika dasar yang membedakan dengan pasar tradisional lainnya adalah jenis kuliner yang tidak dijajakan dipasar lain.

“Semoga saja defisit dan pandemi virus Corona segera berlalu. Saya sangat berharap pasar Mamolo ini dengan geliat ekonomi seperti sebelumnya,” kata ibu rumah tangga yang tinggal di RT 07 Kelurahan Nunukan Selatan ini. (PND/diksipro)

Komentar

Related Articles

Back to top button