Dari sekian banyak aksi kegiatan berbagi taqjil di bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah oleh berbagai komunitas masyarakat yang ada di Nunukan tahun ini, satu di antaranya jadi catatan cukup menarik, ikut sertanya Laskar Pemuda Adat Dayak Kalimantan Timur-Kalimantan Utara (LPADKT-KU) Kabupaten Nunukan ambil bagian pada aksi sosial tersebut.
Dinilai cukup menarik, gerakan sosial berbagi taqjil di bulan ramadhan ini menjadi catatan baru pada lembar sejarah sebagai aksi pertama kali dilakukan oleh LPADKT-KU Cabang Nunukan.
Catatan lainnya, kegiatan yang identik sebagai aksi ibadah sosial di kalangan umat muslim tersebut, juga dilibati oleh sebuah organisasi kemasyarakatan yang sebagian besar anggotanya merupakan masyarakat non muslim.
Mewakili Ryan Anthoni selaku Ketua LPADKT-KU Cabang Nunukan, Koordinator Laskar Wanita pada organisasi kemasyarakatan ini, Nandiya Damayanti terlebih dahulu memastikan, LPADKT-KU bukan organisasi dengan latar belakang atau bernuansa keagamaan.
“LPDKT-KU sebagai lembaga kemasyarakatan yang terbentuk untuk tujuan melestarikan adat, budaya, dan marwah Dayak, mempererat solidaritas masyarakat, serta bersinergi dengan pemerintah dalam pembangunan dan pelayanan sosial di wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara,” terangnya.
Kendati separuh anggota organisasi ini merupaka masyarakat umat non muslim, ditegaskan Nandiya, sama sekali tidak pernah ada pertentangan di internal organisasi ketika ada kegiatan sosial dari agama berbeda yang mereka lakukan . Malah sebaliknya, antusias dukungan positif dari anggota yang beragama nonis langsung diperoleh ketika wacana Ryan Anthoni dan Nandya Damayanti yang nota bene penganut agama Protestan menawarkan ide untuk ikut berbagi takjil di bulan ramadhan,yang disampaikan secara terbuka pada pengurus dan seluruh anggota organisasi beberapa hari sebelum umat muslim memasuki pelaksanaan ibadah berpuasa ramadhan.
“Bentuk dukungan yang ditunjukkan anggota kami yang non muslim, bukan sekedar ucapan kata setuju. Tapi dibuktikan juga dengan ikut melakukan penggalangan dana yang dibutuhan untuk melaksanakan kegiatan dimksud. Termasuk turun langsung ke lapangan saat membagikan takjil di tengah masyarakat,” ujar Nandiya lagi.
Masih seperti dikatakan oleh Koordinator Laskar Wanita LPDKT-KU Cabang Nunukan ini, aksi sosial yang mereka lakukan tersebut, sejatinya lebih kepada bentuk toleransi beragama yang diwujudkan melalui budaya inklusif, toleransi aktif, dan kebijakan yang menghormati perbedaan serta saling menghargai penyelenggaraan hari besar umat beragama dalam bingkai NKRI.
Dari seluruh rupiah yang berhasil mereka kumpulkan secara kolektif, baik yang berasal dari kantong pribadi Ketua Cabang LPDKT-KU Nunukan, kas organisasi, aksi penggalangan dana oleh LPDKT-KU Cabang Krayan hingga partisipasi suka rela dari anggota organisasi, berhasil untuk pengadaan 1000 paket kemasan bingkisan takjil yang dibagikan kepada masyarakat pada Jum’at (13/3/2026) lalu
Hanya membutuhkan waktu lebih kurang 20 menit, kata Nandya, seluruh paket bingkisan takjil yang mereka sediakan, dengan konsentrasi pembagian di dua titik, yakni sekitar RSUD Nunukan dan pelataran Tugu Dwikora di pusat kota Nunukan, hari itu terbagi habis semuanya. (ADHE/DIKSIPRO



