NunukanPendidikan

Curhat Guru PAUD Setelah 4 Tahun Gagal Memburu KIP

Berbuntut Pemanggilanya ke Dinas Pendidikan dan DSP3A

NUNUKAN – Selama empat tahun gagal memburu program Indonesia Pintar untuk anaknya yang merupakan peserta didik, seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) yang juga tenaga guru honorer di salah satu sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Nunukan, RH ‘menumpahkan’ kekecewaannya melalui media sosial Facebook.

Pada curahan hati (Curhat) yang dipostingnya Kamis (11/1/2024) tersebut, RH yang menggunakan akun atas nama Tya Aan mempertanyakan cara mendapatkan Program Indonesia Pintar untuk anaknya. Karena menurutnya, dia yang berada pada garis ekonomi lemah, sudah mengupayakannya sejak empat tahun lalu, ketika anaknya masih duduk di bangku sekolah kelas VII namun hingga saat ini selalu mengalami kegagalan.

Dari tahun ke tahun, hingga anaknya berada di bangku sekolah kelas X, program tersebut tidak kunjung dia dapatkan. Dan selama melakukan Upaya pengurusannya, RH merasa ‘dipingpong’ saat mengurus dari satu lembaga terkait ke lembaga terkait lainnya.

Justru keluarga dengan ekonomi menengah keatas, bahkan sangat mampu begitu mudah mendapatkannya. Tapi dari keluarga ekonomi lemah seperti dirinya, begitu yang disampaikan melalui curhatanya tersebut, begitu kesulitan untuk mendapatkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) apalagi hingga terdaftar pada data Terpadu Kesejahteraan Sosil (DTKS) yang menjadi syarat untuk mendapatkan Program Indonesia Pintar.

“Apakah untuk mendapatkan persyaratan-persyaratan tersebut saya harus membayar mulai dari tingkat RT, Kelurahan hingga Dinas Sosial (Dinsos) atau terlebih dahulu harus memiliki koneksi orang-orang penting,” kata RH seperti dikutip dari pernyataannya.

Postingan RH pada media sosial FB dan mendapat cukup banyak komentar tersebut akhirnya terpantau oleh Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DSP3A) Kabupaten Nunukan, Faridah Ariyani yang menganggap postingan RH itu sebagai informasi hoaks karena terkesan ‘menjudge’ bahwa KIP hanya diberikan kepada orang pilihan apalagi disertai dengan kata-kata harus membayar (suap).

Keberatan atas pernyataannya tersebut, pemilik akun FB atas nama Tya Aan yang terlacak adalah milik RH, dipanggil untuk memberikan klrifikasinya. Sekaligus dipertemukan dengan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan, Achmad mengingat, yang bersangkutan juga bagian dari kalangan dunia Pendidikan, sebagai tenaga pengajar di salah satu PAUD di Nunukan.

Pada pertemuan yang berlangsung di ruang kerja Kadis Pendidikan Jum’at (12/1/2024), RH menerangkan kronologis kesulitannya selama ini untuk mendapatkan program Indonesia Pintar dimaksud.

Jika akhirnya dia sampai harus curhat melalui FB, lantaran kekecewaannya tidak kunjung mendapatkan program yang dia upayakan selama 4 tahun berturut-turut untuk anaknya. Namun berdasar informasi yang dia peroleh, banyak kalangan ekonomi menengah ke atas bahkan yang berstatus sebagai Aparatur Sipil negara atau Pegawai Negeri justru mudah mendapatkan program itu.

Jika kemudian RH dipanggil untuk memberikan klarifikasinya, menurut Kepala DS3A Kabupaten Nunukan, Faridah Ariyani, postingannya di FB tersebut telah mencoreng nama baik RT, Kelurahan, Dinas Sosial bahkan Dinas Pendidikan sendiri.

“Mestinya, sebagai seorang yang berada di kalangan dunia Pendidikan, dia (RH) tahu cara cerdas mengatasi permasalahan ini. Bukan malah menyebar berita hoaks melalui medsos,” kata Faridah.

Karenanya, RH diminta untuk memberikan klarifikasi sekaligus menyatakan permintaan maaf atas hal yang telah dia lakukan, juga melalui medsos. RH memamstikan segera melakukan apa yang diharapkan oleh kadis DSP3A tersebut usai pertemun berlangsung. (ADHE/DIKSIPRO)

Komentar

Related Articles

Back to top button