NUNUKAN – Mengantisipasi terjadi lonjakan kebutuhan barang-barang sembako di daerah ini, Koperasi Karya Jasa Formaline Sejahtera (KJFS) Nunukan memastikan akan melakukan pembenahan transformasi tata kelola dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanannya.
Wacana yang bertujuan agar Koperasi KJFS menjadi lebih adaptif dan profesional tersebut terungkap dalam sebuah pertemuan pengurus yang diselenggarakan pada Kamis malam (12/3/2026) lalu.
Menurut Ketua Koperasi KJFS Nunukan, Vincentius, era lonjakan kebutuhan bahan sembako secara signifikan di daerah ini diprediksi akan mulai terjadi dalam waktu satu atau dua bulan kedepan.
“Salah satu penyebabnya, akan beroperasi secara normal sembilan dapur layanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ada di Nunukan,” kata Vincentius.
Sasaran pembenahan yang akan dilakukan nanti mampu memenuhi kebutuhan bahan sembako seluruh SPPG yang beroperasi di Nunukan sehingga program MBG dari pemerintah dapat berlangsung normal.
Hadir dalam pertemuan tersebut, pemilik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bukit Arung Sejahtera, Sumari menilai upaya yang akan dilakukan oleh Koperasi KJFS tersebut sebagai langkah tepat untuk mengantisipasi kebutuhan sembako yang akan melonjak dalam waktu dekat di Nunukan.
Karena jika tidak dilakukan, menurut Sumari tidak hanya terjadi persaingan antara SPPG yang ada untuk mendapatkan barang sembako yang rutin dibutuhkan tapi berdampak juga terhadap penyediaan sembako kebutuhan sehari-hari masyarakat.
“Antisipasi yang akan dilakukan oleh Koperasi KJFS nanti jangan untuk mengakomodir kebutuhan SPPG saja. Juga mengutamakan pertimbangannya pada kebutuhan masyarakat sehari-hari,” ujar Sumari.
Dia meyakini, pengembangan yang dilakukan Koperasi KJFS tersebut, memiliki prospek usaha yang yang sangat bauk serta dampak perbaikan perekonomian di tengah masyarakat.
Memberi gambaran tentang prospek usaha yang dimaksudkan, SPPG Bukit Arung Sejahtera yang sudah bermitra dengan koperasi KJFS, untuk memenuhi 3000 paket kuota layanan MBG pada bulan April 2026 mendatang setidaknya mengalokasikan anggaran sebesar Rp 600 juta perbulan untuk kebutuhan belanja barang-barang sembako.
“Sedangkan prospek peningkatan perekonomian masyarakat, koperasi mampu menggeliatkan usaha pertanian masyarakat di daerah ini. diyakinkan bahwa setiap produk pertanian yang dihasilkan petani pasti laku terjual,” tegas Sumari. (ADHE/DIKSIPRO)



