Ryan Antony Inisiasi Diskusi Pendidikan di PNN
"Sumbangsih pemikiran untuk kemajuan Kabupaten Nunukan,"
Berada pada komisi yang membidangi Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat, ternyata tidak membatasi perhatian Ketua Komisi III DPRD Nunukan, Ryan Antony terhadap perkembangan dunia pendidikan di Kabupaten Nunukan.
Resmi menjadi perguruan tinggi vokasi dengan status negeri sejak tahun 2021 lalu, namun hingga saat ini Politeknik Negeri Nunukan (PNN) masih berkutat dengan persoalan keterbatasan jumlah pendaftar dalam setiap periode Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) rupanya menjadi keprihatinan tersendiri bagi wakil rakyat terpilih dari Dapil IV Kabupaten Nunukan itu.
Menjawab sendiri kegelisahan yang muncul , Ryan kemudian menginisiasi berlangsungnya sebuah pertemuan literasi yang mendiskusikan solusi dalam mengatasi persoalan di PNN tersebut, Ahad (22/2/2025) lalu. Dijelaskan Ryan, inisiatif tersebut tidak lebih dari bagian dari sumbangsih pemikirannya untuk perkembangan daerah kabupaten Nunukan pada dunia pendidikannya.
”Sebagai masyarakat Kabupaten Nunukan saya berharap kita semua harus memiliki kebanggaan terhadap keberadaan PNN. Bersama-sama memberikan peran agar membuatnya dapat maju dan berkembang pesat,” ujar Ryan menjelaskan dasar pemikiran dari kegiatan diskusi yang difasilitasinya tersebut.
Selain Direktur Politeknik Negeri Nunukan, Arkas Vidy, S.E., M.M., Ph.D., pada diskusi yang digelar di rumah kediamannya di kawasan Jl. Pembangunan, Kelurahan Nunukan Barat, Kecamatan Nunukan, Kabupaten Nunukan, Ryan Antoni juga melibatkan dua rekan sejawatnya, anggota anggota DPRD Nunukan, Muhammad Mansyur dan Ustania serta menghadirkan salah seorang mahasiswa PNN asal Kabupaten Malinau, Satriyo Bayu.
Dalam kegiatan diskusi tersebut, mahasiswa jurusan Alat Berat di PNN ini sengaja dihadirkan Ryan untuk menyampaikan growth mindset dia bersama kelurga sehingga memutuskan pilihan melanjutkan pendidikan Perguruan Tinggi di Politeknik Negeri Nunukan saja.
Peserta diskusi antusias menyimak saat titik start diskusi dimulai dengan paparan Arkas Vidy selaku Direktur PNN tentang situasi dan kondisi kekinian perguruan tinggi yang dipimpinnya saat ini. Mulai dari kondisi fisik gedung kampus serta berbagai sarana pendukungnya, hingga langkah-langkah peningkatan mutu SDM oleh pihak kampus. Diberikan tidak hanya untuk para dosen pengajar tapi juga kepada tenaga Bidang Administrasi serta Tata Usaha dan kelola.
Jika ada sisi yang selama ini belum bisa menjadi ‘magnet kuat’ untuk menarik calon mahasiswa baru bergabung ke PNN, menurut Arkas Vidy karena jenjang pendidikan tertinggi yang tersedia adalah sarjana D3.
”Dalam waktu dekat PNN akan dilengkapi dengan jenjang pendidikan S1 untuk empat Program Pendidikan (Prodi), masing-masing Bisnis Digital, Teknik Sipil Jalan dan Jembatan, English Business dan Agro Bisnis,” kata Arkas Vidy.
Menurutnya, dari empat prodi diusulkan, dua diantaranya sudah disetujui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) hanya tinggal menunggu penerbitan SK. Sedangkan dua lainnya dalam proses revisi.
Masih banyak orang rang tua siswa di Kabupaten Nunukan yang belum mendapat informasi utuh tentang keberadaan PNN di Nunukan, menurut Sekretaris Komisi II DPRD Nunukan, Muhammad Mansyur juga menjadi alasan pilihan melanjutkan pendidikan tingkat Perguruan Tinggi Anak mereka setelah lulus SMA di Nunukan adalah ke Pulau Jawa atau Pulau Sulawesi.
”Padahal, jika informasi detil terkait kampus PNN kepada para orang tua pelajar tersampaikan secara baik, mungkin akan menjadi pertimbangan alternatif untuk menguliahkan anak di Nunukan saja daripada harus ke luar Pulau Kalimantan,” kata Mansyur.
Tinggal bagaimana PNN bisa mengatur strategi agar ‘bisa masuk’ untuk bersosialisasi dalam sebuah momen kegiatan terselenggara yang dihadiri oleh para orang tua pelajar lulusan SMA. Misal diantaranya, seperti acara perpisahan siswa lulusan SMA yang biasanya dihadiri juga oleh para orang tua siswa.
Sementara itu, Bendahara Komisi III DPRD Nunukan, Ustania menekankan, sosialisasi yang dilakukan oleh pihak PNN sebaiknya tidak terbatas pada sekolah-sekolah dan para orang tua siswa yang ada di ibu kota kabupaten saja. Seharusnya menjangkau hingga ke sekolah dan para orang tua pelajar yang berada di daerah pedalaman.
”Sehingga para orang tua di daerah pedalaman yang tadinya berpikir menyudahi pendidikan anak mereka di tingkat SLTA karena alasan biaya yang tidak terpenuhi jika anaknya kuliah di luar Pulau Kalimantan, sebenarnya bisa kuliah di PNN dengan biaya yang jauh lebih ekonomis,” tegas Ustania. (ADHE/DIKSIPRO)



