Umum

Dari Fashion Show Batik Lulantatibu di Paras Fest Nunukan

Antara Harapan, Catatan, dan Insiden Kecil

Acungan jempol pantas diberikan kepada dewan juri Lomba Fashion Show Busana Batik Lulantatibu, salah satu acara utama yang memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun ke-27 Kabupaten Nunukan tahun 2026. Pasalnya, para juri tidak sekadar menilai lalu mengumumkan pemenang, melainkan juga menyampaikan masukan mendalam yang membuka wawasan peserta maupun seluruh masyarakat yang hadir.

Beberapa saat sebelum nama para juara diumumkan, dewan juri menyampaikan catatan penting yang menjadi salah satu penyebab penurunan nilai banyak peserta. Hal ini menunjukkan penilaian dilakukan secara objektif dan transparan, bukan sekadar memberikan penghargaan, melainkan juga mendidik para peserta untuk lebih memahami esensi perlombaan.

Salah satu anggota dewan juri menjelaskan bahwa sejak pendaftaran telah disepakati ketentuan wajib mengekspos minimal 70% bahan motif Batik Lulantatibu pada busana yang diperagakan. Namun kenyataannya, ketentuan tersebut banyak diabaikan peserta. Banyak yang justru menggunakan bahan batik sangat minim, bahkan tak sedikit yang menambahkan aksesoris dan bahan lain lebih dominan sehingga menutupi motif batik yang seharusnya menjadi elemen utama.

“Banyak peserta yang mengabaikan kesepakatan tersebut. Bahan batik Lulantatibu yang dikenakan sangat minim. Bahkan tidak sedikit yang menambahkan aksesoris busana lain lebih dominan yang justru menutupi bahan batik yang harus terekspos maksimal,” tegas salah seorang juri.

Kritik tajam juga disampaikan terkait penampilan peserta kategori Sekolah Dasar (SD). Juri lainnya menyoroti perhatian orang tua peserta terkait tata rias dan busana anak-anak. Ditemukan banyak peserta yang mengenakan busana kurang pantas dan riasan wajah yang sebenarnya lebih cocok untuk orang dewasa, padahal seharusnya menyesuaikan dengan usia anak-anak.

Sri Wahyuni, panitia sekaligus staf Bidang Ekonomi Kreatif (Ekraf) Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Nunukan, menjelaskan tujuan utama digelarnya lomba ini. Selain untuk memperkenalkan dan melestarikan identitas daerah melalui Batik Lulantatibu serta mendorong kreativitas dan inovasi generasi muda, kegiatan ini juga berperan sebagai media promosi potensi daerah.

“Kami ingin menjadikan busana batik sebagai media promosi pariwisata dan ekonomi kreatif khas Nunukan agar semakin dikenal di tingkat regional hingga nasional,” ujar Sri Wahyuni.

Lomba ini juga bertujuan menjaring talenta baru di bidang desain busana, menjadi wadah bagi pengrajin, pelajar, maupun masyarakat umum yang memiliki keterampilan mendesain dan menjahit untuk dapat disandingkan dengan kebutuhan pasar serta pengrajin lokal.

Namun sayangnya, kerja keras Pemerintah Daerah melalui Disbudporapar untuk menyukseskan Paras Fest dalam rangka HUT ke-27 Kabupaten Nunukan, termasuk lomba fashion show ini, sedikit tercederai oleh sebuah insiden kecil. Kejadian itu berlangsung di tengah acara yang juga disaksikan langsung hingga selesai oleh Ketua TP PKK Kabupaten Nunukan, Andi Annisa Muthia.

Terjadi cekcok mulut antara seorang oknum anggota Satpol PP Nunukan dengan salah satu panitia yang berinisial L. Insiden bermula ketika petugas Satpol PP tersebut meminta L beserta dua rekannya untuk keluar dari area penonton yang dibatasi pagar panggung. Padahal, ketiganya adalah panitia yang bertugas dari Disbudporapar.

“Saat diminta keluar, kami sempat menjelaskan bahwa kami panitia dan bahkan memperlihatkan ID Card Panitia yang kami miliki,” ungkap L kepada media ini. Namun penjelasan tersebut seolah tidak didengar. Petugas tetap memaksa mereka keluar, sehingga tak terhindarkan perdebatan sengit. Merasa dipermalukan di hadapan banyak penonton, akhirnya L memilih mengalah dan keluar dari area tersebut.

“Yang aneh, mengapa hanya kami bertiga yang diusir keluar, padahal kami panitia dan sudah menunjukkan ID Card? Sementara ada puluhan penonton lain yang merapat hingga ke bibir panggung sama sekali tidak ditegur, apalagi sampai disuruh keluar oleh petugas itu,” kritik L terkait ketidakadilan yang dirasakannya.

Insiden kecil ini menjadi catatan tersendiri bagi pelaksanaan acara ke depan. Semoga sinergi antara petugas keamanan dan panitia dapat berjalan lebih harmonis, agar tujuan mulia melestarikan Batik Lulantatibu dan mempromosikan potensi Nunukan tetap menjadi fokus utama tanpa terhalang kendala di lapangan.

Komentar

Related Articles

Back to top button