NunukanPendidikan

Banyak Oknum ASN Malah Menghambat Pendataan Program PK-25

Curhat Petugas Lapangan di Nunukan Selatan

NUNUKAN – Dianggap sebagai kalangan lebih berwawasan dan menjadi garda terdepan dalam mendukung suksesnya program pemerintah, tidak sedikit oknum kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kecamatan Nunukan Selatan ternyata justru menjadi batu sandungan bagi petugas lapangan yang melakukan pendataan untuk progam Pemutakhiran Pendataan Keluarga Tahun 2025 (PK-25).

Keluhan nyaris seragam diungkapkan sejumlah petugas pendata di wilayah tersebut, ketika mereka turun menghimpun data keluarga Indonesia terkini yang terselenggara melalui Kementerian  Kependudukan  dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, berlangsung mulai tanggal 22 Juli hingga tanggal 21 Agustus 2025 lalu. Cerita mereka, sering terjadi pada kunjungan ke rumah keluarga berstatus ASN mengalami cobaan yang menuntut kesabaran tinggi dalam menghadapinya.

Seperti diungkapkan Fitriani, satu diantara petugas pendata yang wilayah kerjanya mencakup hingga di kokasi perumahan Komplek Pegawai Negeri (KPN), di Sedadap, Kelurahan Nunukan Selatan, Kecamatan Nunukan Selatan, Kabupaten Nunukan. Diakui, dirinya kerap menghadapi sikap kurang ‘welcome’ dari tuan rumah yang dikunjungi .

“Mulai dari sikap atau gesture tidak nyaman yang ditunjukkan saat menerima kedatangan saya. Hingga yang sama sekali tidak mau memberikan datanya. Padahal mereka sudah menyita waktu cukup lama lantaran mengajukan berbagai pertanyaan pada saya sehubungan tugas yang kami jalankan,” terang Fitriani.

Pernah dipergoki, tuan rumah hanya mengintip dari celah kain tirai jendela. Tapi sama sekali tidak menjawab salam yang beberapa kali diucapkan Fitriani. Keadaan itu, menurut Fitriansi seolah menegaskan bahwa saat itu rumah yang dikunjungi tengah tidak ada orangnya. Atau satu rumah penghuninya sedang keluar.

Pengalaman versi petugas pendata lainnya, Mila yang mengaku tetap dibukakan pintu oleh tuan rumah yang dia kunjungi tapi dibarengi sikap kurang bersahabat serta kalimat yang diucapan ketus. Dia juga pernah mendapat sambutan dari seorang ibu rumah tangga, selama ini diketahui berstatus ASN. Tapi ketika dikunjungi saat itu berbohong, bukan sebagai pemilik rumah

“Dia bilang bukan pemilik rumah, hanya tamu yang kebetulan datang berkunjung. Tapi tiba-tiba, ee….. kebetulan ada anak kecil yang keluar dari kamar, memanggil wanita tadi dengan sebutan ‘Mama’,” kata Mila.

“Pokoknya, sering dibuat ‘makan hati’ atas perlakuan yang kerap kami terima. Kami ini kan melaksanakan tugas program pemerintah. Seharusnya mendapat dukungan penuh dari kalangan ASN,” tambah Mila yang mengaku jika boleh memilih, lebih suka tugas mendatanya di kalangan masyarakat umum atau kelompok warga pembudidaya rumput laut yang dinilainya jauh lebih ramah dan koperatif.

Akhirnya, tidak mendapatkan juga data yang dibutuhkan kendati telah diminta menunggu cukup lama, dialami petugas lapangan lainnya bernama Endang. Pengalaman kunjungan tugas ke salah satu rumah warga di RT. 07 Kelurahan Nunukan Selatan, adalah pasangan yang suaminya berprofesi sebagai dokter sedangkan istrinya memegang sebuah jabatan penting pada salah satu instansi di lingkungan Pemkab Nunukan.

“Saya diminta menunggu. Lalu dia masuk ke dalam rumah. Lebih kurang lima belas-an menit dan sempat bengong lantaran menunggu sendirian, barulah pemilik rumah keluar. Dan baru itu juga dia menanyakan apa keperluan saya,” tutur Endang.

Penjelasan rinci yang disampaikan terkait tujuan kunjungan saat itu ternyata tidak serta merta membuahkan hasil mendapatkan data yang dibutuhkan. Alasan tuan rumah menolak memberikan data kelurga saat itu, kuatir akan disalahgunakan oleh orang lain.

Ketiga petugas lapangan program pemerintah yang bertujuan mendapatkan data masyarakat yang akurat  dan valid ini dapat memahami, jika kekhawatiran di tengah masyarakat untuk memberikan informasi data pribadi dan keluarganya, lantaran takut disalahgunakan oleh orang lain.

Namun menurut Fitriani, jika sedikit saja mau lebih cerdas, sebaiknya orang-orang yang meragukan keberadaan mereka, dapat melihat langsung atribut resmi kelengkapan petugas saat melakukan pendataan atau ID-card yang dikenakan.

“Ketika melakukan tugas pendataan, kami dibekali surat tugas resmi. Diberikan oleh Kantor Kelurahan. Bertindak waspada itu bagus. Tapi akan lebih baik jika mereka mau bertanya terlebih dahulu sebelum keburu pasang wajah sinisnya,” tambah Endang.

Namun demikian, ketiganya juga sepakat. Tidak semua warga dari kalangan ASN di wilayah daerah ini berperilaku seperti yng dikeluhkan. Dipastikan, persoalan yang mereka temui hanya dari segelintir oknum. Masih banyak yang lainnya yang memberikan sambutan baik. Hanya saja, dari perkiraan prosentsenya cukup besar dilakukan oleh oknum berstatus ASN. (ADHE/DIKSIPRO)

Komentar

Related Articles

Back to top button