Banyak Kasus Pernikahan Dini di Kecamatan Nunukan Selatan
Yanti : “Tidak sedikit anak stunting dari kalangan ASN berkecukupan,”

NUNUKAN – Kendati tidak menyebut angka pasti, namun Penanggung Jawab Gizi pada Puskesmas Sedadap, Yanti Minggu, A.Md.Gz mengatakan Kecamatan Nunukan Selatan, menjadi wilayah yang memiliki banyak kasus pernikahan di bawah umur di Kabupaten Nunukan.
Dua kawasan yang disebutnya menjadi ‘penyumbang’ terbanyak kasus-kasus pernikahan dini tersebut adalah Kelurahan Mansapa dan Kelurahan Tanjung Harapan.
Pernyataan tersebut disampaikan Yanti pada Rabu (27/8/2025) saat hadir sebagai nara sumber dalam kegiatan sosialisasi Fasilitasi Pengelolaan Dapur Sehat Atasi Stunting di Kampung KB Nusa Sejahtera, Kelurahan Nunukan Selatan, Kabupaten Nunukan.
“Tidak sedikit anak berusia antara tiga belas hingga empat belas tahun di kedua wilayah kelurahan di Kecamatan Nunukan Selatan tersebut yang sudah menikah,” kata Yanti.
Padahal, pernikahan di bawah umur, lanjut Yanti, menjadi salah satu kontribusi resiko anak stunting melalui beberapa mekanisme. Diantaranya, soal kematangan fisik dan psikologis yang belum sempurna, kurangnya pengetahuan tentang gizi dan pola asuh karena masih dalam masa pertumbuhan serta potensi terjadi perebutan gizi antara ibu dan janin selama masa kehamilan termasuk soal kesiapan mental.
“Pernah ada kasus (di Kecamatan Nunukan Selatan), seorang anak (perempuan) akibat menikah di usia dini, melahirkan anak pada umurnya baru memasuki usia empat belas tahun. Saat bidan mengajari cara menyusui bayi, dia malah sibuk main handphone. Ini menandakan secara mental ibu muda tersebut belum siap menikah dengan segala konsekwensi yang harus dihadapi setelah berumah tangga,” kata Yanti.
Ditanyakan penyebab sehingga banyak terjadi kasus pernikahan di bawah umur pada kedua wilayah kelurahan di Kecamatan Nunukan Selatan itu, menurut Yanti, masing-masing kedua pasangan pengantin usia dini merasa sudah siap berumah tangga lantaran sudah memiliki penghasilan dari pekerjaan mereka sebagai pengikat rumput laut.
Soal anak di bawah umur yang sudah memiliki penghasilan karena ikut bekerja pada usaha pertaniaan rumput laut tersebut, masih seperti dikatakan Yanti, tidak sedikit mereka yang berusia antara 8 hingga 10 tahun di Kecamatan Nunukan Selatan ini yang sudah tidak mau sekolah.
Kembali pada soal potensi anak mengalami stunting, di daerah ini, masih seperti yang disampaikan dalam kesempatan sama saat itu, ternyata munculnya kasus stunting tidak hanya pada kalangan masyarakat dengan status sosial dan pendidikan rendah. Juga dari kelurga ASN yang secara ekonomi berkecukupan.
“Cukup memprihatinkan. Karena kesibukan bekerja sebagai pegawai pemerintah, banyak ibu rumah tangga berstatus ASN jadi tidak memperhatikan pola asuh yang diterapkan untuk anaknya yang masih dalam masa pertumbuhan. Termasuk malas membuat makanan dengan gizi seimbang, kaya protein atau mereka tidak mengonsumsi makanan bergizi dan suplemen selama masa kehamilan dan tidak melakukan pemantauan tumbuh kembang anak di posyandu secara rutin. (ADHE/DIKSIPRO)