Isu Cinta Segitiga dan Utang Piutang Sebagai Pemicu, Terbantahkan
Kelompok Pemuda Yang Bentrok Memilih Berdamai

NUNUKAN — Peristiwa perkelahian antara dua kelompok pemuda yang terjadi di Nunukan pada Sabtu (17/10/2026) sekitar pukul 21.30 Wita, berakhir dengan kedamaian. Alih-alih dilanjutkan ke proses hukum yang berbelit, kedua belah pihak memilih untuk menyelesaikannya secara kekeluargaan.
Beberapa jam setelah peristiwa itu terjadi dan masih dalam penanganan pihak berwajib, perwakilan dari masing-masing kubu yang sempat beradu fisik sepakat mendatangi Kantor Polsekta Nunukan untuk menyatakan keinginan berdamai.
Kapolsekta Nunukan, Disco Barasa, membenarkan adanya kesepakatan tersebut saat dikonfirmasi pada Selasa (20/10/2026). Menurutnya, langkah damai itu datang atas permintaan kedua belah pihak dengan alasan yang sangat mendasar. Kedua belah pihak yang sempat beradu pukul ternyata masih memiliki hubungan kekeluargaan yang cukup dekat.
“Saat itu setelah kejadiannya ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian, ada perwakilan masing-masing pihak yang datang menyatakan mereka berdamai karena masih ada hubungan kekeluargaan yang cukup dekat,” terang Barasa.
Peristiwa ini memang sempat menjadi pembicaraan hangat dan viral di media sosial. Rekaman video amatir yang diambil warga menggunakan ponsel di lokasi kejadian, dengan cepat menyebar dan mendapat beragam tanggapan dari netizen.
Peristiwa baku pukul sejumlah orang di depan sebuah barbershop di Jalan TVRI. Dalam rekaman tersebut terlihat jelas bagaimana keributan terjadi, bahkan di saat arus lalu lintas di sekitar lokasi masih terlihat cukup ramai dan padat.
Perdamaian yang disepakati kedua pihak sekaligus mengungkap fakta sebenarnya di balik insiden tersebut, sehingga menggugurkan berbagai isu simpang siur yang sempat berkembang di tengah masyarakat. Sebelumnya, banyak informasi yang tidak akurat beredar, mulai dari dugaan persoalan cinta segitiga hingga masalah utang piutang.
Fakta sebenarnya terungkap. Insiden bermula dari miskomunikasi antara seorang wanita berinisial Zl dengan seorang pria bernama Rz, yang ternyata masih memiliki hubungan saudara sepupu. Pada siang hari tanggal yang sama, Zl yang baru mulai bekerja sebagai kasir di barbershop WN mengirim pesan WhatsApp kepada istri Rz, mermintaan agar tidak mencampuri urusan pribadinya. Namun, di dalam pesan itu terselip kata-kata yang kurang sopan sehingga membuat istri Rz merasa keberatan dan segera melaporkan kepada suaminya.
Rz kemudian membalas pesan tersebut dengan kalimat yang tidak kalah keras. Pertukaran pesan inilah yang semakin memanas, hingga kemudian melibatkan rekan-rekan dari kedua belah pihak yang ikut terprovokasi dan mulai saling mengirimkan ancaman.
Menduga bahwa yang membalas pesan tersebut adalah kekasih Zl yang hubungannya memang tidak direstui keluarga, Rz kemudian mendatangi lokasi barbershop pada malam hari bersama tiga orang rekannya. Di sana terjadilah bentrokan fisik, empat orang melawan empat orang , yang akhirnya terekam dan tersebar luas di media sosial.
“Situasi yang sebelumnya sudah panas, kedatangan Rz ke barbershop tersebut tidak terhindarkan terjadi perkelahian empat lawan empat. Itu yang akhirnya viral dan ada merekam video peristiwanya ke media sosial,” jelas Barasa.
Dengan adanya perdamaian yang telah disepakati bersama, pihak kepolisian mengapresiasi sikap dewasa kedua kelompok pemuda tersebut. Semoga menjadi pelajaran berharga bagi kita semua untuk lebih bijak dalam menjaga komunikasi dan menahan emosi, sekaligus lebih teliti sebelum mempercayai informasi yang beredar di media sosial. (ADHE/DIKSIPRO)



