Pesan Hardiknas 2026, Mahasiswa PNN Diminta Tak Sekadar Mengejar Nilai

NUNUKAN – Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional. Bukan sekadar seremonial belaka, Hardiknas adalah pengingat bahwa pendidikan adalah jalan utama memajukan bangsa.
Dan di titik inilah mahasiswa berdiri tegak. Sebagai generasi yang dituntut untuk belajar, berkarya, dan mengabdi untuk negeri. Semangat Ki Hajar Dewantara, “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” ini harus hidup bukan hanya di papan tulis, tapi di lapangan, di desa, hingga ke wilayah perbatasan.
Ditegaskan Andi Syariffudin, Wakil Direktur Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Politeknik Negeri Nunukan (PNN), di era disrupsi ini, ijazah saja tidak cukup. Mahasiswa harus bertransformasi menjadi pembelajar sepanjang hayat.
“Merdeka Belajar bukan berarti bebas tanpa arah, melainkan bebas memilih jalur yang paling relevan dengan kebutuhan zaman,” ujar Andi Syariffudin,
Menurutnya, mahasiswa vokasi memiliki tuntutan khusus. Teori di kelas harus menyatu dengan praktik nyata. Teori di kelas harus nyambung dengan alat di bengkel, data di lapangan, dan kebutuhan industri. Tantangannya sederhana, melawan rasa nyaman. Belajar itu memang tidak selalu enak, tapi itulah harga dari kemerdekaan berpikir,” tambah Syarifuddin.
Banyak mahasiswa menurutnya, masih terjebak pola lama. Tugas dikerjakan hanya untuk memenuhi kewajiban kepada dosen, lalu terlupakan begitu saja. Padahal, kampus adalah tempat lahirnya inovasi yang harus bermanfaat bagi masyarakat.
Di PNN, semangat ini sudah mulai terlihat nyata. Mahasiswa Prodi Teknik Pengolahan Hasil Perikanan berhasil menciptakan produk abon ikan yang kini sudah dipasarkan, sementara mahasiswa Administrasi Bisnis aktif mendampingi UMKM agar melek pembukuan digital.
“Karya harus punya nilai guna. Mahasiswa harus berani keluar dari zona nyaman, berkolaborasi dengan masyarakat, dan menjawab persoalan riil. Hardiknas mengingatkan kita bahwa pendidikan tanpa karya hanya akan menjadi retorika kosong.” tegasnya.
Tema Hardiknas tahun ini, “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua” dipastikan mengandung pesan mendalam. Mahasiswa tidak boleh menunggu selesai kuliah baru mulai mengabdi. Pengabdian dimulai dari sekarang. Terutama di wilayah perbatasan seperti Nunukan, mahasiswa justru menjadi ujung tombak perubahan. Mereka mengajar anak-anak di desa, mendampingi nelayan beralih ke teknologi, membantu pemerintah desa mengelola data.
“Di sinilah peran mahasiswa sebagai agent of change diuji. Tantangan terbesarnya bukan soal keterbatasan fasilitas, melainkan rasa apatis. Banyak mahasiswa masih merasa ‘bukan urusanku’. Padahal, kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Mengabdi itu bukan soal besar-kecilnya aksi, tapi soal keberanian untuk peduli.” tegas Andi Syarifuddin lagi.
Pendidikan nasional tidak akan melangkah maju kalau mahasiswa hanya menjadi penonton perubahan. Kita butuh mahasiswa yang berani. Berani belajar keras, berani berkarya nyata, berani mengabdi tanpa pamrih.
“Di Hardiknas 2026 ini, mari kita jadikan kampus sebagai tempat lahirnya solusi, bukan sekadar penghasil sarjana. Mari buktikan bahwa mahasiswa Indonesia, khususnya di perbatasan Nunukan, mampu belajar dengan giat, berkarya dengan bangga, dan mengabdi dengan ikhlas untuk negeri.” ajaknya. (ADHE/DIKSIPRO)



