Umum

Desa Mara Hilir Dijadikan Pelopor Pertanian Modern Kaltara

Bupati Syarwani Pacu Produktivitas hingga 11 Ton per Hektare

TANJUNG SELOR – Upaya Kabupaten Bulungan mendorong swasembada pangan memasuki babak baru. Desa Mara Hilir, Kecamatan Tanjung Palas Barat, kini menjadi pelopor penerapan Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) di Kalimantan Utara.


Langkah tersebut ditandai dengan pelaksanaan Panen Raya dan Tanam Perdana PM-AAS di Dusun Kenarai, Desa Mara Hilir, baru-baru ini.
Bupati Bulungan Syarwani, S.Pd., M.Si., bersama Wakil Bupati Kilat, hadir langsung menyaksikan proses panen sekaligus memulai musim tanam kedua dengan teknologi pertanian modern.


Menariknya, Bupati dan Wakil Bupati memilih menggunakan sepeda motor menuju lokasi persawahan. Selain menunjukkan kedekatan dengan masyarakat, perjalanan tersebut sekaligus dimanfaatkan untuk melihat langsung kondisi akses menuju kawasan pertanian.


Dii areal persawahan, keduanya turut mencoba Combine Harvester, mesin panen modern yang mampu melakukan tiga tahapan sekaligus, yakni memotong tanaman padi, merontokkan bulir, hingga membersihkan gabah.
Penerapan mekanisasi ini diharapkan mampu mempercepat proses panen, menekan biaya produksi, mengurangi kehilangan hasil serta meningkatkan efisiensi kerja petani.


Desa Mara Hilir sendiri menjadi daerah pertama di Kaltara yang menerapkan sistem PM-AAS, dengan tahap awal pengembangan lahan seluas 50 hektare. Melalui penerapan teknologi dan sistem budidaya modern tersebut, produktivitas padi ditargetkan mampu mencapai 10 hingga 11 ton gabah per hektare. Angka ini diharapkan menjadi lompatan besar dibandingkan pola pertanian konvensional yang selama ini diterapkan petani.


Bagi Bupati Syarwani, modernisasi pertanian bukan sekadar menghadirkan mesin dan teknologi. Keberhasilan program sangat ditentukan oleh keterlibatan petani sebagai pelaku utama.


“Saya mengajak dari hati ke hati kepada Bapak Ibu masyarakat petani di Mara Hilir. Sebagus apa pun konsep yang disiapkan pemerintah tidak akan berhasil tanpa dukungan masyarakat dan Brigade Pangan sebagai pelaksana di lapangan,” kata Syarwani.


Irigasi Jadi Pekerjaan Rumah
Di tengah optimisme modernisasi pertanian, Bupati Syarwani juga menyoroti persoalan yang masih menjadi pekerjaan rumah, yakni sistem irigasi.


Menurutnya, jaringan pompa dan saluran air sepanjang kurang lebih tiga kilometer telah tersedia. Namun, fasilitas tersebut belum berfungsi maksimal karena aliran air belum sampai ke kawasan persawahan.


“Saya minta perangkat daerah terkait, khususnya Dinas PUPR bersama Brigade Pangan, segera menyelesaikan persoalan ini agar lahan pertanian dapat dimanfaatkan secara maksimal,” tegasnya.


Syarwani menilai ketersediaan air merupakan faktor penting dalam memastikan teknologi pertanian modern dapat berjalan optimal. Tanpa dukungan infrastruktur irigasi yang memadai, peningkatan produktivitas sebagaimana ditargetkan PM-AAS akan sulit dicapai.
Bulog Siap Beli Gabah Petani


Tak hanya soal produksi, Pemkab Bulungan juga berupaya memastikan hasil panen petani memiliki pasar yang jelas.

Bupati menyampaikan bahwa Perum Bulog telah menyatakan kesiapan membeli gabah petani dengan harga Rp6.500 per kilogram. Kepastian pasar tersebut dinilai penting untuk memberikan rasa aman kepada petani sekaligus mendorong mereka meningkatkan produksi.


“Bulog menyatakan siap membeli gabah Rp6.500 per kilogram. Ini artinya sudah ada pasar terbuka yang memberikan kepastian bagi masyarakat petani,” ungkapnya.


Selain panen dan tanam perdana, kegiatan tersebut juga dirangkai dengan penyerahan bantuan sarana dan alat produksi pertanian.
Pemkab Bulungan bersama Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Kalimantan Utara menyerahkan Rice Transplanter atau mesin penanam bibit padi kepada Brigade Pangan Britamah, mesin pompa air kepada Kelompok Tani Tanjung Harapan, serta bantuan pestisida kepada Kelompok Tani Harapan Makmur.


Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua DPRD Bulungan H. Riyanto, S.Sos., Ketua TP PKK Bulungan Sri Nurhandayani Syarwani, unsur Forkopimda, jajaran perangkat daerah, pemerintah kecamatan dan desa, Brigade Pangan, kelompok tani serta perwakilan PT GAWI Plantation.


Dengan menjadikan Mara Hilir sebagai daerah percontohan PM-AAS, Pemkab Bulungan menargetkan pertanian tidak lagi hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga menjadi sektor strategis untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.


Modernisasi pertanian di Mara Hilir diharapkan menjadi awal penguatan Bulungan sebagai salah satu lumbung pangan sekaligus daerah penyangga ketahanan pangan Kalimantan Utara, terutama di wilayah perbatasan.

Komentar

Related Articles

Back to top button