NUNUKAN – Sejak resmi menjabat dan melaksanakan tugas sebagai Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II-B Nunukan per 23 April 2026 lalu, Donny Setiawan langsung menyusun langkah strategis. Salah satu agenda awal yang dilakukannya adalah melakukan serangkaian kunjungan koordinasi dan silaturahmi ke berbagai pimpinan institusi strategis di Kabupaten Nunukan.
Salah satu tujuan utama kunjungan tersebut adalah ke Politeknik Negeri Nunukan (PNN). Kedatangan Donny beserta rombongan pejabat struktural Lapas Nunukan disambut hangat langsung oleh Direktur PNN, Arkas Viddy, didampingi para pejabat akademik, pimpinan lembaga penunjang, serta tenaga kependidikan di lingkungan kampus yang memiliki standar kompetensi tinggi.
Dalam pertemuan tersebut, Donny menilai kolaborasi dengan perguruan tinggi vokasi unggulan seperti PNN memiliki arti yang sangat penting dan strategis. Hal ini berkaitan erat dengan pengakuan terhadap kapasitas kampus dalam menyusun dan melaksanakan pembinaan warga binaan, khususnya dalam membekali mereka dengan keterampilan teknis yang mumpuni serta kesempatan memperoleh sertifikasi keahlian yang diakui industri.
“Langkah ini begitu krusial agar nantinya mantan narapidana mampu hidup mandiri, memiliki daya saing yang tinggi untuk mendapatkan pekerjaan atau membuka usaha sendiri, serta yang paling utama adalah menekan angka residivis atau pengulangan tindak pidana,” ungkap Donny saat pertemuan.
Merespons antusiasme tersebut, Direktur PNN Arkas Viddy menyampaikan apresiasi mendalam atas kepercayaan yang diberikan pihak Lapas Nunukan. Baginya, kepercayaan ini merupakan bentuk pengakuan nyata atas keunggulan kompetensi dan kualitas sumber daya manusia, serta kelengkapan fasilitas pendidikan yang dimiliki kampus dalam mendukung program pembinaan kemandirian yang berkualitas.
“Pihak kampus menyambut baik segala koordinasi yang terbangun ini. Bagi kami, ini adalah wujud nyata pengabdian perguruan tinggi kepada masyarakat dan daerah, sekaligus menjadi bukti bahwa kapasitas akademik dan teknis PNN siap diandalkan untuk berbagai kebutuhan pembinaan,” ujar Arkas.
Ia menambahkan, pelibatan institusi pendidikan tinggi yang memiliki spesialisasi keterampilan ini dinilai sangat tepat sasaran. Tenaga pengajar kampus mampu memberikan materi keahlian teknis yang mutakhir dan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini, disusun secara praktis dan aplikatif agar benar-benar menjadi bekal kehidupan setelah mereka kembali ke tengah masyarakat.
Hasil pertemuan dan diskusi tersebut pun segera menemukan titik terang. Disepakati bentuk sinergi konkret antara kedua belah pihak, yaitu pelaksanaan program pelatihan keterampilan di bidang konstruksi bangunan bagi para warga binaan pemasyarakatan, yang sepenuhnya mengandalkan keahlian internal kampus.
Arkas Viddy menjabarkan mekanisme pelaksanaannya. Kapasitas keilmuan para dosen, khususnya dari Jurusan Teknik Sipil PNN, akan dilibatkan secara aktif sebagai narasumber utama dan pengajar yang kompeten dalam pelatihan konstruksi tersebut. Sementara untuk tempat pelaksanaan kegiatan praktik, akan dilaksanakan di bengkel kerja yang ada di lingkungan Lapas Nunukan dengan bimbingan tenaga ahli PNN.
“Tujuannya jelas, membekali narapidana dengan keterampilan praktis yang standarnya mengacu pada keahlian yang kami miliki. Sehingga setelah selesai menjalani masa hukumannya, mereka telah memiliki bekal keahlian yang bermanfaat, bernilai ekonomi, dan siap bersaing di dunia kerja,” terang Direktur PNN ini. (ADHE/DIKSIPRO)
