ARAKAN – Kabar menggembirakan datang dari perairan Kalimantan Utara. Sebanyak 43 ekor Hiu Gangga (Glyphis gangeticus) yang berstatus sangat terancam punah berhasil ditemukan kembali di aliran Sungai Sesayap, Kabupaten Tana Tidung. Penemuan ini menjadi bukti nyata kekayaan alam yang luar biasa di wilayah ini.
Temuan berharga ini merupakan hasil kerja sama tim peneliti dari Universitas Hasanuddin, James Cook University Australia, dan Universitas Borneo Tarakan yang melakukan penelitian mendalam di kawasan tersebut. Keberhasilan menemukan kembali populasi satwa langka dunia ini disambut gembira oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara.
Gubernur Kaltara, Dr. H. Zainal Arifin Paliwang, mengapresiasi langkah kolaboratif ini dan menyebutnya sebagai pencapaian penting bagi dunia konservasi. Menurut beliau, keberadaan hewan langka ini menegaskan bahwa Sungai Sesayap memiliki peran strategis sebagai rumah alami yang krusial bagi kelangsungan hidup spesies tersebut.
“Atas nama pemerintah daerah, saya mengajak seluruh masyarakat, khususnya warga Tana Tidung, untuk merasa bangga atas anugerah dan temuan berharga ini,” ujar Gubernur Zainal penuh harap. Ia menekankan bahwa kebanggaan tersebut harus diwujudkan dalam tindakan nyata pelestarian lingkungan.
Gubernur mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk bersatu menjaga kelestarian habitat hewan predator sungai tropis yang sangat eksotis ini. Upaya perlindungan ini mutlak diperlukan agar keberadaan satwa langka ini tetap lestari dan tidak sampai punah dari permukaan bumi di masa mendatang.
Khusus bagi para nelayan yang beraktivitas di sekitar muara sungai, beliau mengingatkan agar berhati-hati. Apabila secara tidak sengaja ikan ini tertangkap saat menjaring atau memancing, diharapkan segera melepaskannya kembali ke alam dengan cara yang aman dan tidak melukai tubuh hewan tersebut.
Sebagai langkah nyata, Pemerintah Provinsi berencana memperkuat sosialisasi dan edukasi kepada warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai. Tujuannya adalah menanamkan pemahaman mendalam bahwa mereka adalah pihak terdepan yang memegang peran kunci dalam menjaga masa depan satwa istimewa ini.
“Langkah pencegahan dan pembinaan ini sangat penting untuk membangun kesadaran bersama, bahwa masyarakat adalah penjaga utama bagi kelangsungan hidup salah satu satwa paling langka di dunia ini,” pungkas Gubernur Zainal.(dkisp)
