Pemasaran Komoditas Asal Krayan Dikeluhkan

Dior : “Banyak kok langkah yang sudah kami lakukan,”

NUNUKAN – Semangat berkarya pengrajin handycraft di Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, menurut salah seorang pengusaha yang bergerak di bidang usaha seni kriya dari wilayah itu, Sumiyanti Yacob menurun cukup drastis.

Alasannya, handycraft yang diproduksi para pengrajin terbentur pada kesulitan memasarkannya. Karenanya, diperlukan kepedulian dari pihak-pihak, terutama Pemerintah Daerah melalui instansi terkait memberikan perannya pada persoalan tersebut.

“Cukup banyak kerajinan tangan khas suku Dayak Lundayeh bernilai seni tinggi dan berdaya jual,” terang Sumiyanti pada Diksipro.com beberapa waktu lalu.

Umumnya kerajinan tangan yang diproduksi  para pengrajin dari daerah ini, lanjutnya, memanfaatkan kekayaan alam sekitar karena menggunakan bahan dasar rotan, bambu, dan serat alam.

Namun karena terkendala dalam hal memasarkannya, banyak dari pengrajin tersebut saat ini terpaksa vacum berkarya. Mencoba beralih bidang usaha lain yang diharapkan dapat memberikan penghasilan tambahan.

Selama ini, lanjut Sumiyanti, peluang menjual hasil kerajinan tangan yang mereka buat baru bergantung jika ada even berpameran. Baik pada kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun pihak swasta atau organisasi tertentu.

“Tapi ‘kan kebutuhan para pengrajin tidak bisa bergantung pada kegiatan yang hanya digelar sesekali. Mereka butuh langkah-langkah nyata fasilitator yang tidak membuat semangat mereka berkarya meredup,” ujar wanita yang disebut-sebut juga salah satu tokoh figur perempuan dari wilayah Krayan ini.

Tidak hanya Sumiyanti Yacob, kendala pemasaran barang-barang produksi lokal daerah Krayan juga disuarakan warga yang mengaku sebagai petani garam Krayan, Simson Sali.

‘Nama besar’ dan keunikan garam diproduksi dari kawasan pegunungan Krayan tersebut, menurutnya tidak berbanding lurus dengan antusias para petaninya. Lantaran kesulitan dalam hal penjualannya.

“Banyak petani garam di Krayan yang saat ini tidak berproduksi lagi karena secara ekonomis tidak bisa terlalu diharapkan akibat kendala pemasarannya,” kata Simson yang dibenarkan beberapa rekan sedaerah asal, saat wawancara dengan media ini berlangsung.

Mengklarifikasi informasi tersebut, Kabid Perdagangan pada Dinas Koperasi, Usah Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Kabupaten Nunukan, R. Dior Frames yang diwawancarai Kamis (29/1/2026) mengaku heran atas pernyataan kedua warga Krayan yang dianggap kontradiktif tersebut.

Menurutnya, sejauh ini begitu banyak langkah yang sudah dilakukan Pemerintah Daerah dalam memfasilitasi pemasaran produk-produk dari berbagai wilayah di Kabupaten Nunukan, tidak terkeculi Krayan. Mencarikan peluang pasar yang tidak sekedar melalui ajang berpameran.

Bahkan selaku Kabid Perdagangan Dior juga mengaku intens berkomunikasi dengan para pengrajin maupun petani dalam hal melakukan pemesanan komoditi asal Krayan untuk dicarikan pemasarannya.

“Selama barangnya ada tersedia, kami Bidang Perdagangan DKUKMPP) selalu siap untuk ikut membantu memasarkan. Sampai saat ini belum pernah ada laporan dari Krayan terjadi over load barang karena tidak terpasarkan,” tegas Dior.

Jika juga ada barang produksi Krayan yang belum mendapat market, kata Dior lagi, petani atau pengrajinnya diharapkan bisa berkomunikasi langsung pada bidang terkait di DKUKMPP Kabupaten Nunukan untuk informasi yang lebih jelas. Termasuk mendapatkan solusi jika ada permasalahan yang dihadapi dilapangan. (ADHE/DIKSIPRO)

Komentar
Exit mobile version