Sistem pembelajaran yang dirancang bertingkat dan berjenjang di Liuzhou Polytechnic menjadi salah satu hal yang paling mendalam dipelajari oleh para delegasi Indonesia. Dirincikannya, ada tiga tingkatan penguasaan AI yang akan diberikan secara bertahap, dimulai dari level yang paling dasar hingga tingkat tertinggi, yang dirancang untuk memastikan penguasaan teknologi yang utuh dan menyeluruh.
Pada tahap awal, delegasi mempelajari dua level materi penguasaan AI secara langsung di Tiongkok, yaitu Level Student dan Level Educator. Pada level pertama, peserta belajar memanfaatkan AI dalam pekerjaan sehari-hari, memahami cara kerja, serta memanfaatkannya untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Sementara pada level kedua, peserta dilatih untuk mampu mentransfer pengetahuan tersebut kepada orang lain. Khususnya mahasiswa di kampus masing-masing, dengan metode penyampaian yang tepat dan mudah dipahami.
Sementara itu, untuk Level Ketiga atau Level Sertifikator, baru akan diberikan setelah dua tahun menerapkan dan menguasai dua level sebelumnya. Pada tingkatan ini, seorang pendidik tidak hanya menguasai pengembangan teknologi, tetapi juga mampu melakukan evaluasi dan berwenang menerbitkan sertifikat kompetensi kepada peserta didiknya. Artinya, kewenangan ini menjamin standar kualitas keahlian yang diakui secara resmi.
”Pada level ini, dosen yang sudah menguasai pengembangan dan evaluasi berhak memberikan sertifikasi kompetensi AI kepada peserta ajar (mahasiswa),” jelas Arkas Viddy.
Artinya, setelah kembali ke Indonesia, para dosen ini tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga menjadi penjamin mutu keahlian lulusannya. Sebuah peran strategis yang selama ini masih sangat terbatas di lingkungan pendidikan vokasi dalam negeri.
Manfaat jangka panjang dari program ini sangat besar dan berjangka luas. Para dosen dan direktur ini pulang tidak hanya membawa pengetahuan baru, tetapi juga kurikulum teruji, metode pengajaran berbasis teknologi terkini, serta visi untuk memajukan pendidikan vokasi di Indonesia agar setara dengan standar internasional. Langkah ini menjadi jembatan penting agar lulusan politeknik di seluruh negeri, termasuk di wilayah perbatasan seperti Nunukan, semakin berdaya saing tinggi di kancah global.
Selain penguasaan teknis, program ini juga membuka peluang kerja sama jangka panjang antara politeknik-politeknik di Indonesia dengan Liuzhou Polytechnic. Pertukaran dosen, penelitian bersama, hingga pengembangan pusat pelatihan AI di dalam negeri menjadi kemungkinan nyata yang dapat diwujudkan pasca-kunjungan ini. Sinergi ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan semata, melainkan tumbuh menjadi kemitraan yang berkelanjutan dan saling menguntungkan.
Dengan bekal ilmu dan pengalaman langsung dari pusat keunggulan teknologi di Tiongkok, diharapkan pendidikan vokasi Indonesia semakin berkembang pesat. Inilah investasi terbaik bagi masa depan bangsa: mendidik para pendidik, agar kelak lahir generasi penerus yang tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga mampu berinovasi dan berkontribusi nyata bagi kemajuan negeri. Semoga ilmu yang dibawa pulang menjadi benih kemajuan yang tumbuh dan berbuah manis di seluruh tanah air. (Bagian III – habis)
